• Minggu, 1 Agustus 2021
  • Email : layanan[at]serangkab.go.id
  • Phone : (0254) 200-252
logo
tradisi-kupatan-bentuk-akulturasi-budaya-lokal-dan-ajaran-islam

TRADISI KUPATAN BENTUK AKULTURASI BUDAYA LOKAL DAN AJARAN ISLAM

Islam di seluruh Indonesia termasuk Serang telah menjalani puasa Ramadan hingga hari ke-15 pada tanggal 15 Ramadan 1442 H atau Selasa, 27 April 2021.

Pada pertengahan bulan suci Ramadhan atau 14 menuju 15 Ramadhan kebiasaan/tradisi warga Banten khusunya Kabupaten/Kota Serang mengadakan qunutan (kupatan) dan Lepet. Tradisi ini dilakukan turun temurun oleh warga Serang.

Pembuatan kupat dan lepet biasa dilakukan dua hari sebelum 15 Ramadhan karena memakan waktu yang cukup lama. Namun, pengisian dan perebusan dilakukan pada pagi hari dan sore atau malam harinya di taruh di Masjid/ Musolah masing-masing.

”Dalam qunutan merupakan tradisi yang baik dan tidak melanggar syariat, karena hakikatnya di dalamnya itu adalah kegiatan bersedekah. Hanya saja, dibungkus dengan tradisi-tradisi yang sudah berlaku di masyarakat tersebut," Ujar Wakil Sekretaris Jendral Bidang Sosial Kemasyarakatan dan Budaya Pengurus Pusat IKMBP, Ahmad Saefullah saat dikonfirmasi melalui chat WhatsApp, Selasa (27/4/2021).

Saefullah menambahkan, dalam tradisi qunutan atau kupat qunutan, biasanya masyarakat membawa ketupat yang sudah matang ke masjid setelah Sholat Ashar dan sebagian masyarakat juga ada setelah Salat Tarawih dan kemudian melakukan riungan (pembacaan doa) oleh jemaah usai Salat Tarawih. Uniknya, yang dibawa bukan hanya ketupat, tetapi juga lengkap dengan opor ayam atau sayur kulit tangkil dan sambel kentang goreng.

“Selain ketupat tersebut dibagi-bagikan untuk dibawa pulang oleh jemaah masjid, juga sisanya ketupat dimakan bersama-sama saat buka puasa bersama di masjid. Yang dimaksudkan untuk meraih berkah pada bulan suci ini,” imbuhnya.

Dilansir dari laman Republika.co.id, qunutan adalah tradisi lama yang masih diwariskan hingga saat ini. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya. Ada yang menyebutkan tradisi itu telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak ketika memperluas pengaruhnya ke daerah barat pada 1524.

Sultan Cirebon, Sunan Gunung Jati, yang dibantu pasukan Demak menduduki pelabuhan Banten dan mendirikan Kesultanan Banten. Kemudian dengan maksud untuk meraih berkah pada bulan suci Ramadan, ketupat pun dibagi-bagikan.

Selain itu, menurut Lurah pondok salafi Bani Rijah Bojonegara itu menegaskan, tradisi kupatan merupakan bentuk Akulturasi Budaya Lokal dan Ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Jawa.

"Tradisi qunutan tidak hanya ada Banten saja, melainkan ada pada beberapa daerah yang ada di Indonesia, antara lain daerah Lampung dan Jawa, ini menunjukkan adajya akulturasi (percampuran) Budaya Lokal dan Ajaran Islam. Dalam filosofi Jawa, ketupan memiliki makna khusus. Yaitu ketupat atau kupat yang merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat," tegas Saefullah.

Menurutnya, Ngaku Lepat adalah tradisi sungkeman yang menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa karena sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan, dan ampunan dari orang lain. Sedangkan Laku Papat adalah lebaram, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran artinya hari berakhirnya bulan ramadhan, luberan artinya melebur atau melimpah.

"bahwa maksud Luberan itu ajakan bersedekah pada akhir bulan ramadhan untuk kaum miskin melalui pengeluaran zakat fitrah. Leburan artinya sudah habis dan lebur, maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis, karena umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain dan semua itu ada pada ajaran Islam," pungkas Saefullah.

Terakhir kata laburan yang berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk menjernihkan air dengan maksud agar manusia tetap menjaga kesucian lahir dan batin.

Diketahui, tradisi qunutan juga sebagai bentuk rasa syukur umat Islam karena berhasil menjalani separuh Ramadan. Qunutan masih berlangsung hampir di seluruh wilayah Pulau Jawa. Selain itu, qunutan juga menjadi momentum saling berbagi makanan dan berkumpul bersama di masjid atau musala pada sore atau malam harinya.

Top