Image
By agus

Jaga Alam, maka Alam Jaga Kita

Selasa, 19 Maret 2019; |  Jam 16:20:56 WIB  |  0 comments

Pemerintah Kabupaten Serang melalui Badan Penanggulangan  Bencana Daerah menyelenggarakan acara Sosialisasi Jaga Alam, maka Alam  Jaga Kita pada 11 Maret lalu di Desa Tengkurak Kecamatan Tirtayasa. Jaga alam mengandung makna bahwa semua pihak juga harus aktif dalam merawat alam atau lingkungan tempat kita tinggal, maka pada akhirnya alam akan merawat kita. Sumber bencana yang terjadi rata-ratanya berasal dari perbuatan manusia, seperti terjadinya perambahan hutan, alih fungsi lahan, penambangan liar dan lain sebagainya.  Bencana seperti banjir dan longsor menjadi bukti bahwa keseimbangan alam terganggu karena aktivitas manusia. Degradasi daerah aliran sungai, penggunaan bantaran sungai sebagai pemukiman, maupun pemanfaatan lahan yang tidak tepat telah memicu berbagai bencana.

Dalam sosialisasi dijelaskan bahwa upaya-upaya mitigasi bencana perlu penguatan berbagai pihak,  salah satu upaya tersebut adalah menjaga Alam, maka alam jaga kita. Alam  semakin berubah karena semakin banyaknya penduduk yang memanfaatkan alam untuk kelangsungan hidupnya. Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi mempengaruhi kondisi alam. Pada daerah berpotensi bancana  pertumbuhan penduduk dan urbanisasi meningkatkan kerentanan dan jumlah penduduk terdampak. Selain itu, pembangunan berbagai infrastruktur juga bisa menjadi pemicu risiko bencana baru dan meningkatkan kerugian akibat bencana.

Kejadian bencana cenderung meningkat, di sisi lain pengaruh fenomena global seperti perubahan iklim dan perlambatan rotasi bumi juga disinyalir meningkatkan kejadian bencana hidrometeorologi dan geologi. Berdasarkan dari laporan kejadian bencana Desa Tengkurak adalah salah satu desa yang sering dilanda banjir yang diakibatkan oleh meluapnya sungai Ciujung. Desa ini terletak di Teluk Banten yang berhubungan langsung dengan Laut Jawa. Apabila curah hujan tinggi dan Bendung Pamarayan pun sudah tidak dapat menampung air sungai maka Sungai Ciujung meluap yang akhirnya mengalir ke rumah-rumah penduduk sepanjang sungai.

 

Kabupaten Serang yang terdiri atas 29 Kecamatan dan 326 Desa, memiliki bentuk topografi dan kondisi fisik alam yang bervariasi memiliki potensi terjadi bencana alam yang tersebar di berbagai wilayah administrasi, tercatat pada akhir tahun 2018 bencana alam yang terjadi berupa tsunami Selat Sunda yang menimbulkan kerugian materil dan imateril yang cukup besar. Letak geografis Kabupaten Serang yang  berbatasan dengan Laut Jawa dan Kota Serang di sebelah utara dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tangerang serta sebelah Barat berbatasan dengan Kota Cilegon dan Selat Sunda, dengan posisi geografis seperti itu tidak akan mudah untuk menjaga alam secara mandiri karena alam yang dirusak akan menimbulkan dampak yang meluas tidak mengenal wilayah administrasi. 

 

Dikatakan bahwa “Menjaga alam bukanlah pilihan tapi sudah menjadi kewajiban, jika tidak dimulai saat ini alam akan semakin rusak dan dapat menimbulkan bencana yang lebih besar dengan dampak yang lebih besar lagi” ujar narasumber. Kita tidak dapat memprediksi bencana alam yang bakal terjadi namun kita dapat mencegah timbulnya bencana dengan memperlakukan alam dengan baik seperti menjaga kebersihan, menanam pohon dan tidak melakukan eksploitasi alam secara besar-besaran.

 

Pemerintah Kabupaten Serang di bawah pimpinan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menyambut baik acara ini yang mengajak menjaga alam dan melakukan upaya nyata menjaga alam. Bencana yang disebabkan dari kerusakan alam akan menghapus apa-apa yang telah dibangun, sehingga perlu dihindari dan dicegah. Pembangunan akan berjalan dengan baik apabila kita selaras dan menjaga alam yang pada akhirnya akan meningkatkan indeks pembangunan manusia di wilayah Kabupaten Serang.